Sabtu, 29 Mei 2010
FACEBOOK SEBAGAI CARA MENDAPATKAN DUKUNGAN SOSIAL
Senin, 24 Mei 2010
ASAL USUL SAROLANGN
PADA zaman dulu, sebelum agama Islam masuk kedaerah Jambi, ada sebuah dusun yang terletak ipinggir sungai Batang Asai, Dusun ini bernama Ujung Tanjung, karena letaknya diujung tanjung Tembesi. Sejak zaman Hindu Dusun Ujung Tanjung sudah terkenal wilayah ini. Karena menjadi pusat pemerintahan segala batin (negeri) dikawasan ini. Betapa tidak, rakyatnya sangat taat dan patuh kepada adat dan pemimpinnya. Kepala Dusunnya dipimpin oleh seorang Rio yang bergelar Datuk Bagindo Tuo. Kala itu tidak sembarang orang biasa jadi kepala Dusun atau Rio. Yang dapat adalah orang yang berilmu dan sakti di takuti dan dihormati oleh rakyatnya. Karena Ujung Tanjung menjadi Pusat pemerintahan segala Batin (negeri). Di situ didirikan sebuah tempat bermusyawarah yang dinamakan balai panjang sampai sekarang ungkapan Balai Panjang ini disebut dalam kata-kata adat di Sarolangun yang berbunyi “Ujung Tanjung Saribulan, bakuto pinang balarik, idak pasih bategak rumah, pasih bategak Balai Panjang, disitu tempat kusut basalesai, silang tempat bapatut”.
Bulan berganti tahun, tahun berganti abad, dari zaman Hindu masuk Islam, daerah Jambi diperintah oleh seorang raja Jambi yaitu Sulta Thaha, dimasa pemerintahan sultan Thaha inilah nama Dusun Ujung Tanjung disebut Ujung Tanjung Sari Bulan.
Pasalnya ketika rombongan kerajaan melayu Jambi yaitu Sultan Thaha dengan rombongan armada perahu kajang lakonya menelusuri sungai Batanghari kehulu dan masuki sungai Batang Tembesi untuk meninjau daerah dan rakyatnya, sampailah keDusun Ujung Tanjung. Rombongan di sambut oleh rakyat sebagaimana layaknya menyambut seorang raja. Sulta Thaha menjadi tamu Datuk Rio Bagindo Tuo lengkap dengan pengawal hulubalang tangguh yang datang dari dusun-dusun sekitarnya seperti dari Bathin VIII, Bathin VI, Bathin Pengambang, dan lain-lain.
Rombongan Sultan Thaha tiba diujung Tanjung ini tepat pada tanggal 1 hari bulan ketika itu. Maka sejak itu pulalah ujung tanjung di sebut Ujung Tanjung Sari Bulan.
System pemerintahan didusun Ujung Tanjung Sari Bulan ketika itu adalah Sistem pintu Gerbang, karena Ujung Tanjung menjadi segala pusat pemerintahan segala Bathin, bagi para tamu dari luar daerah tidak boleh langsung datang ke Ujung Tanjung Sari Bulan. Tetapi harus menghadap dan melapor Datuk Rio Depati Singo Dilogo kepala pemerintah di desa Lidung. Desa Lidung ini terletak kira-kira 5 km kehilir sungai Tembesi. Apabila sudah ada izin dari Rio Lidung ini, barulah tamu tadi dating ke Rio Datuk Bagindo Tuo di Ujung Tanjung Sari Bulan.
Pada masa ini pulalah dusun Ujung Tanjung ini berubah nama menjadi SAROLANGUN, dongengnya kira-kira begini:
Suatu ketika ada dua orang tamu dari daerah Musi Rawas berasal dari dusun Suro. Kedua orang ini ingin bertemu dan menghadap Rio Datuk Bagindo Tuo di Ujung Tanjung tersebut. Mereka ingin bertemu untuk silaturrahmi dan ingin menuntut ilmu kesaktian dengan Datuk Rio. Sebelum mereka ke Ujung Tanjung Saribulan sudah menjadi ketentuan haruslah melapor terlebih dahulu kepada Rio Dusun Lidung. Transportasi atau hubungan antar dusun ketika itu terutama melalui sungai. Sedangkan hubungan darat sangat sulit karena belum ada jalan seperti saat ini, yang ada semak belukar bahkan masih hutan belantara.
Ketika kedua orang Suro ini menuju Dusun Lidung haripun sudah hampir malam. Terpaksalah kedua orang ini istirahat dan bermalam di tenggah hutan ini yang bernama hutan Senaning. Sore harinya itu sempat pula kedua orang ini bertemu dengan dua orang penduduk Dusun Lidung yang mau pulang dari mencari rotan. Sanak datang dari mana dan tujuan mau kemana, sapa orang Lidung kepada kedua orang Suro ini. Kami datang dari Dusun Suro Musi Rawas mau menghadap Datuk Rio Depati Singo Dilago di Dusun Lidung, jawab kedua orang Suro ini, karena hari sudah senja dan Dusun LIdung masih jauh, maka bermalamlah kedua orang suro ini di hutan Senaning. Sesampainya di Dusun Lidung, kedua pencari rotan tadi melapor kepada datuk Rio bahwa di hutan Senaning ada tamu bermalam disana dan mau menghadap Datuk Rio. Oleh datuk Rio diperintahkanlah aling-aling atau pesuruhnya untuk menjemput dan membawa kedua orang Suro tadi ke Dusun Lidung.
Setelah tiba di tempat bermalamnya orang Suro itu ternyata sudah tidak ada lagi di tempat itu. Sedangkan perintah Rio kalau belum ketemu harus di cari terus di dalam hutan itu. Sudah dua hari utusan berkeliling hutan itu, namun orang itu tidak di ketemukan. Akhirnya para pencari inipun pulanglah ke dusun Lidung dan member tahu Rionya bahwa kedua orang itu sudah berpindah dari tempatnya.
Beberapa hari kemudian didapat berita oleh Rio Dusun Lidung bahwa kedua orang Suro itu, telah bermalam dan berpindah kedusun Ujung Tanjung Sari Bulan. BERMALAM dan BERPINDAH dalam bahasa dusun itu di sebut MELANGUN. Dikarenakan peristiwa melangun ini terjadi di dusun Ujung Tanjung Sari Bulan maka dusun Ujung Tanjung Sari Bulan pun berubah nama menjadi Suro Melangun. Lama kelamaan disebabkan logat dan ejaan orang dusun SURO MELANGUN berubah menjadi SAROLANGUN, demikianlah sekelumit dongeng asal usul nama SAROLANGUN.
SAROLANGUN, 1 FEBRUARI 2009
DISUSUN OLEH : H. RUSDI RIZAL
NARA SUMBER : H. ISMAIL ZEN
Sarolangun Ekspress, kamis 5 maret 2009
Minggu, 02 Mei 2010
JAMBI: NEGERI PANTUN
Mungkin kita sepakat kalau Jambi kita sebut dengan Negeri Pantun. Kenapa? Tentunya hal ini beralasan, karena Jambi sangat kaya dengan Pantun-pantunnya. Sudah sewajarnya imej tersebut melekat pada Jambi.
Anda bisa perhatikan lirik-lirik lagu Jambi yang umumnya kebanyakan berisikan pantun, atau anda juga bisa mendengar anak-anak muda di Jambi yang senantiasa menggunakan pantun sebagai media untuk merayu pasangannya, bahkan di pelosok Jambi ada sebuah tradisi yang disebut tradisi berbalas pantun/besloko.
Di sini saya coba menghadirkan kepada anda beberapa pantun yang biasa digunakan oleh masyarakat Jambi :
Batanghari aeknyo tenang
Sungguhpun tenang deras ke tepi
Anak Jambi jangan dikenang
Kalo dikenang merusak hati
Kami ba umo di lereng bukit
Rebah padi digiling batang
Kami umpamo si burung pipit
Kemano terbang di halau orang
Hidup api pangganglah kuau
Kuau tepanggang si abang kaki
Maksud hati nak meraih pulau
Pulau dijago si Nago sakti
Lubuk pungguk tepian Napal
Tempat budak mencuci baju
Awak biduk nak serempak kapal
Idakkan mungkin nyo samo laju
Bederai hujan di rimbo
Tibo di padi bederai jangan
Becerai kito di muko
Namun di hati becerai jangan
Hanya itu pantun yang bisa saya sajikan, masih banyak pantun-pantun lainnya yang sering digunakan oleh masayarakat Jambi dalam berbagai acara adat, acara muda-mudi dan acara-acara lainnya. Saya membayangkan, andai saja suatu saat nanti di Jambi ada sebuah gapura/ tugu selamat datang yang bertuliskan “SELAMAT DATANG DI NEGERI PANTUN” Mungkin bagus kali ya? He..he..
KORUPSI MEWABAH DI DAERAH JAMBI*
Indonesia adalah salah satu negara yang tercatat dalam buku hitam negara “rawan korupsi”. Saking rawannya, presiden keduanya, (alm. Soeharto) yang hampir abadi dalam kursi kekuasaanya itu pun didakwa dan terbukti sebagai seorang koruptor. Menyusul kemudian beberapa menteri kabinet, lawas maupun anyar. Anggota legislatif dan besan presiden juga tak mau ketinggalan kereta “KKN”. Hebatnya, golongan pembuat vonis di pengadilan malah tergiur dengan permen KKN. Lengkaplah sudah argumentasi bagi preposisi yang menyebutkan bahwa Indonesia adalah area pegunungan emas para koruptor.
Penyakit nasional ini lantas mewabah dan menjangkiti para ‘sultan kecil’ di hampir setiap provinsi. Penyakit itu semakin dikategorikan berbahaya ketika UU Otonomi Daerah digulirkan. Taraf selanjutnya, trickle down effect terjadi. Pemda tingkat II dan tingkat III beserta anggota legislatifnya ikut-ikutan main hujan UANG (baca: KKN).
Di Riau ada kasus konversi hutan lindung yang masih segar dalam ingatan. Kasus ini membuat al-Amin Nasution, anggota legislatif asal Jambi diseret oleh KPK. Selain Amin, putera Jambi yang sudah digiring oleh KPK ke meja hijau adalah Antoni Zeidra Abidin yang terjerat kasus BLBI. Antoni sendiri hingga saat ini di non-aktifkan dari jabatan sebelumnya sebagai wakil gubernur provinsi Jambi.
Jika beberapa putera Jambi yang memiliki kedudukan struktural strategis saja sudah berani bermain kotor di luar kandangnya, apalagi melihat makanan empuk yang tersanding di kandangnya sendiri. Korupsi renovasi gedung perwakilan (mess) Jambi di Cikini senilai 5 miliar, korupsi pembangunan wisma Jambi di jalan Cidurian, Jakarta pusat senilai 7,4 miliar (kasus ini membuat sekda Jambi, Chalik Saleh dihukum kurungan selama tiga tahun dan denda 150 juta rupiah), dugaan korupsi pada proyek Waterboom Jambi, dugaan korupsi proyek pembangunan Wiltop Trade Center (WTC) Jambi, korupsi pada proyek pembangunan asrama pelajar Jambi di Yogyakarta (awalnya dianggarkan oleh gubernur senilai 700 juta, namun realisasinya hanya senilai Rp 511.950.000), dan korupsi proyek pembangunan asrama Tanjung Jabung Barat, Jambi yang anggarannya mencapai 2,5 miliar adalah bukti yang terbilang cukup absah.
Kedua kasus teakhir ini membuat kami, Keluarga Pelajar Jambi Yogyakarta (KPJY) menjadi semakin risih dan memutuskan untuk turun jalan hari ini. Betapa tidak, wujud bangunan asrama pelajar Jambi yang terletak di jalan DN III/717, Kecamatan Danurejan, Kabupaten Bausasran, Yogyakarta itu tidak sebanding dengan dana anggaran yang terealisasi (500 juta lebih), terlebih untuk ukuran asrama pelajar tingkat provinsi. Konstruk bangunan yang tidak berstandar Jogja (tergolong provinsi rawan gempa), sempitnya ukuran kamar, tidak adanya aula, pengiriman bahan bangunan yang sempat tersendat, proses administrasi yang kelabu, gaji pekerja yang pembayarannya molor, tidak adanya tim pengawas/konsultan, penggunaan material bekas, dan lain sebagainya mengindikasikan terjadinya korupsi pada proyek tersebut.
Perlu diketahui, keputusan KPJY untuk turun ke jalan ini tidaklah bersifat reaksioner. Sebelumnya kami telah melayangkan surat kepada pemda Jambi untuk menindaklanjuti proyek itu, menerbitkan majalah [Kajanglako] edisi khusus yang mengusut perihal korupsi pada proyek tersebut, juga telah berdialog dengan jajaran pemda dan dewan legislatif daerah Jambi. Namun, hasilnya seperti tak berujung dan membuat penantian kami bertambah panjang. Tak kurang dua tahun kami bersuara lembut terhadap kasus ini sampai-sampai menghambat stabilitas kerja organisasi, bahkan seringkali menjadikan kuliah sebagian anggota KPJY terlantar. Maka dari itu, hari ini kami membuat konsensus untuk bersuara keras lagi lantang atas kasus ini dengan menuntut:
ü Seret atau adili Akmal Thaib (Biro P.P.Provinsi Jambi)
ü Usut tuntas kasus asrama pelajar Jambi di Bausasran dan asrama Tanjung Jabung Barat
ü Transparansi dana pembangunan asrama pelajar Jambi di Bausasran dan asrama Tanjung Jabung Barat
ü Adili kontraktor pembangunan asrama pelajar Jambi di Bausasran, Yogyakarta
ü Usut tuntas korupsi di Jambi
ü Bangun ulang asrama pelajar Jambi di Bausasran, Yogyakarta
Selain itu, kami Keluarga Pelajar Jambi Yogyakarta dengan tegas menolak untuk menempati asrama yang terletak di Bausasran tersebut
Sabtu, 27 Maret 2010
Perlunya TV Digital di Indonesia
Perlunya TV Digital di Indonesia
Saat ini populasi pesawat televisi tidak kurang dari 40 juta unit, dengan pemirsa lebih dari 200 juta orang, jauh lebih banyak dibandingkan dengan komputer, misalnya, yang hanya sekitar 5,9 juta unit.
Dengan demikian, rencana migrasi teknologi analog ke digital merupakan hal yang harus dipertimbangkan masak-masak agar tidak memberatkan konsumen.
Apalagi perjalanan panjang industri televisi di Indonesia ini sudah dimulai sejak tahun 1962 dan sampai saat ini teknologinya tidak berubah. Sejarah ini dimulai dengan pengiriman teleks dari Presiden Soekarno yang sedang berada di Wina pada 23 Oktober 1961 kepada Menpen Maladi, waktu itu, untuk segera menyiapkan proyek televisi.
Tindak lanjutnya adalah siaran percobaan TVRI yang dilakukan 17 Agustus 1962, dalam acara HUT Proklamasi Kemerdekaan Indonesia XVII dari halaman Istana Merdeka Jakarta, dengan pemancar cadangan berkekuatan 100 watt. Pada 24 Agustus 1962, TVRI mengudara pertama kalinya dengan acara siaran langsung upacara pembukaan Asian Games IV dari Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Setahun berikutnya mulailah dirintis pembangunan stasiun daerah; dimulai dengan stasiun Yogyakarta, yang mulai siaran pada akhir tahun 1964, dan berturut-turut Stasiun Medan, Surabaya, Makassar, Manado, serta Denpasar yang berfungsi sebagai stasiun penyiaran. Yang kemudian mulai tahun 1977, secara bertahap, dibentuklah stasiun-stasiun produksi keliling atau SPK, yang berfungsi sebagai perwakilan di daerah, bertugas memproduksi dan merekam paket acara untuk dikirim dan disiarkan melalui TVRI Stasiun Pusat Jakarta di beberapa ibu kota provinsi.
Konsep inilah yang kemudian mulai tahun 90-an diadopsi oleh beberapa stasiun TV swasta berjaringan (TV swasta nasional), mulai dari RCTI, SCTV, Indosiar, antv, dan TPI, yang dalam perkembangan selanjutnya juga diikuti oleh Trans TV, Metro TV, Global TV, Lativi, dan Trans7. Kecuali TVRI yang juga bersiaran di kanal VHF (very high frequency), dalam siarannya mereka menggunakan kanal UHF (ultra high frequency) dengan lebar pita (bandwidth) untuk satu program siaran sebesar 8 megahertz (MHz).
Saat ini TV broadcaster di Indonesia juga sedang mendapat warning dengan rencana kedatangan teknologi DTV. Sejak tiga tahun lalu, tim nasional migrasi televisi dan radio dari analog ke digital telah melakukan beberapa kajian terhadap implementasi DTV di Indonesia.
Serangkaian diskusi, seminar, workshop,dan lokakarya yang melibatkan tenaga ahli di bidang DTV dari beberapa penjuru dunia telah dilakukan. Bahkan, uji coba siaran digital TV telah dilakukan sejak pertengahan tahun 2006 menggunakan channel 34 UHF untuk standar DVB-T dan ch 27 UHF untuk standar T-DMB.
Teknologi DVB-T
Dari hasil uji coba siaran digital TV, mereka menilai teknologi DVB-T mampu memultipleks beberapa program sekaligus, di mana enam program siaran dapat dimasukkan sekaligus ke dalam satu kanal TV berlebar pita 8 MHz, dengan kualitas cukup baik. Di samping itu, penambahan varian DVB-H (handheld) mampu menyediakan tambahan sampai enam program siaran lagi, khususnya untuk penerimaan bergerak (mobile). Hal ini sangat memungkinkan bagi penambahan siaran-siaran TV baru.
Saat ini ada beberapa standar yang dapat dirujuk di dunia, yaitu ATSC (Advanced Television Systems Committee) yang telah mengembangkan standar single carrier 8-VSB (8-level vestigial side-band) yang telah dikembangkan dan dipergunakan secara luas di Amerika, Kanada dan Argentina; Standar ISDB-T (integrated serviced digital broadcasting), yang menetapkan metoda modulasi multicarrier BST-OFDM (bandwidth segmented transmission-Orthogonal Frequency Division Multiplex) yang dikembangkan dan dipergunakan di Jepang dan kemudian diikuti oleh Brasil.
Selain juga teknologi T-DMB (terrestrial digital mobile broadcasting) dari Korea dan DMB-T (digital mobile broadcasting terrestrial) dari China, serta tentu saja DVB-T (digital video broadcasting-terrestrial) dari Eropa, yang saat ini dipergunakan secara luas di Eropa, Australia, dan Asia.
Sistem ATSC 8-VSB yang pada awalnya dikembangkan di AS untuk mengirim layanan audio video berkualitas tinggi (high quality audio video/HDTV) dan ancillary data, menggunakan arsitektur layered digital system yang terdiri atas empat layer, yaitu picture layer yang dapat mendukung sejumlah format video yang berbeda, compression layer yang mengubah contoh sinyal video dan audio ke dalam satu bit stream yang dikodekan (coded bit stream), transport layer yang memaketkan data, dan RF transmission layer yang memodulasi sebuah serial bit stream ke dalam sinyal dengan metode trellis-coding dengan 8 discrete levels signal amplitude yang dapat ditransmisikan melalui channel TV selebar 6 MHz (sampai 8 MHz) dengan data rate 19,4 Mbps.
Merupakan teknologi berbasis single carrier frequency yang menggunakan modulasi vestigial side-band (VSB) yang mirip dengan yang digunakan dalam televisi analog konvensional. Suatu pilot tone disediakan untuk memfasilitasi akuisisi sinyal berkecepatan tinggi di setiap pesawat penerima (receivers). Complex coding techniques dan adaptive equalization digunakan agar tahan terhadap gangguan pelemahan propagasi (propagation impairments), seperti multipath, noise, dan interference .
Adapun sistem OFDM adalah suatu multicarrier technology yang memecah sebuah single data stream ke dalam paralel, lower rate data streams. OFDM kemudian menggunakan beberapa subcarriers untuk mentransmisikan lower rate streams dari data tersebut secara simultan. Untuk menjamin bahwa masing-masing subcarriers tidak saling interferens satu sama lainnya, spasi frequency di antara subcarriers dipilih secara hati-hati sehingga setiap subcarrier adalah ortogonal terhadap yang lainnya.
Setiap individual subcarriers kemudian dimodulasi secara quadrature amplitude modulation (QAM) atau bisa juga quadrature phase shift keying (QPSK). Teknik pengodean (C di dalam COFDM) dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan sistem. Desain multicarrier dari COFDM ini membuatnya tahan terhadap gangguan transmisi, seperti multipath propagation, narrowband interference, dan frequency selective fading.
Kelebihan
Dalam aplikasinya, dibandingkan dengan COFDM, ATSC 8-VSB diyakini oleh banyak pihak memiliki beberapa kelebihan, antara lain data rate nya lebih tinggi, spectrum efficiency lebih tinggi, carrier to noise ratio (C/N) treshold yang lebih tinggi dan kebutuhan daya listrik transmiternya lebih kecil untuk jangkauan yang sama. Namun, diyakini pula bahwa COFDM lebih tahan terhadap gangguan dinamis dan high level static multipath sehingga lebih cocok diaplikasikan dalam mobile reception operation (model 2k dan model 4k) dan SFN/single frequency networks reception operation (8k mode). DVB-T juga mampu memberikan solusi efisiensi bandwidth dengan teknologi multiplexing.
Terjadinya migrasi dari era penyiaran analog menuju era penyiaran digital, yang memiliki konsekuensi tersedianya saluran siaran yang lebih banyak, akan membuka peluang lebih luas bagi para pelaku penyiaran dalam menjalankan fungsinya dan dapat memberikan peluang lebih banyak bagi masyarakat luas untuk terlibat dalam industri penyiaran ini.
Untuk itu, peran pemerintah menjadi sangat strategis dalam mempersiapkan pengembangan sumber daya manusia yang mampu mengisi dan menjadi pelaku industri penyiaran digital agar momentum penyiaran digital ini dapat menjadi pemicu tumbuh dan berkembangnya kemandirian bangsa. Pemerintah sudah semestinya dapat memfasilitasi dan ikut berpartisipasi secara aktif dalam implementasi teknologi DTV ini karena migrasi ini akan menimbulkan revolusi di bidang penyiaran.
Bagaimanapun pada era penyiaran digital telah terjadi konvergensi antarteknologi penyiaran (broadcasting), teknologi komunikasi (telepon), dan teknologi internet (IT). Dalam era penyiaran digital, ketiga teknologi tersebut sudah menyatu dalam satu media transmisi. Dengan demikian akses masyarakat untuk memperoleh ataupun menyampaikan informasi menjadi semakin mudah dan terbuka.
Mengingat karakter masyarakat Indonesia yang sangat majemuk dan dengan tingkat pendidikan yang sangat beragam, diperlukan tuntunan kepada masyarakat bagaimana memilih program yang benar. Untuk itu, diperlukan broadcaster yang bertanggung jawab dan adanya lembaga pengawas konten yang berwibawa.
Momentum penyiaran digital dapat membuka peluang yang lebih banyak bagi masyarakat dalam meningkatkan kemampuan ekonominya. Peluang usaha di bidang rumah produksi, pembuatan aplikasi-aplikasi audio, video dan multimedia, industri senetron, film, hiburan, komedi dan sejenisnya menjadi potensi baru untuk menghidupkan ekonomi masyarakat.
Sebagaimana yang sudah terjadi di negara-negara maju, suatu saat akan datang teknologi multimedia home platform (MHP), di mana segala macam aktivitas kehidupan modern, seperti perbankan, bisnis, entertainment, sport, permainan, video on demand, digital pay TV, movie on street, internet TV, laporan cuaca, pembelajaran jarak jauh, doa interaktif dan lain-lain. dll, dapat dilakukan di rumah dan di mana saja dengan memanfaatkan teknologi DTV ini.
Menuju Era TV Digital
1958 - Sebuah karya tulis ilmiah pertama tentang LCD sebagai tampilan layar televisi dikemukakan oleh Dr. Glenn Brown.
1964 - Prototipe sel tunggal display Televisi Plasma pertamakali diciptakan Donald Bitzer dan Gene Slottow. Langkah ini dilanjutkan Larry Weber.
1967 - James Fergason menemukan teknik twisted nematic, layar LCD yang lebih praktis.
1968 - Layar LCD pertama kali diperkenalkan lembaga RCA yang dipimpin George Heilmeier.
1975 - Larry Weber dari Universitas Illionis mulai merancang layar plasma berwarna.
1979 - Para Ilmuwan dari perusahaan Kodak berhasil menciptakan tampilan jenis baru organic light emitting diode (OLED). Sejak itu, mereka terus mengembangkan jenis televisi OLED. Sementara itu, Walter Spear dan Peter Le Comber membuat display warna LCD dari bahan thin film transfer yang ringan.
1981 - Stasiun televisi Jepang, NHK, mendemonstrasikan teknologi HDTV dengan resolusi mencapai 1.125 garis.
1987 - Kodak mematenkan temuan OLED sebagai peralatan display pertama kali.
1995 - Setelah puluhan tahun melakukan penelitian, akhirnya proyek layar plasma Larry Weber selesai. Ia berhasil menciptakan layar plasma yang lebih stabil dan cemerlang. Larry Weber kemudian megadakan riset dengan investasi senilai 26 juta dolar Amerika Serikat dari perusahaan Matsushita.
2000-an, masing-masing jenis teknologi layar semakin disempurnakan. Baik LCD, Plasma maupun CRT terus mengeluarkan produk terakhir yang lebih sempurna dari sebelumnya.
2008 dan seterusnya, menyusul perkembangan televisi digital di negara-negara Amerika dan Eropa, Indonesia juga akan menerapkan sistem penyiaran Televisi digital (Digital Television/DTV) adalah jenis TV yang menggunakan Modulasi digital dan sistem kompresi untuk menyebarluaskan video, audio, dan signal data ke pesawat televisi.
Latar belakang pengembangan televisi digital:
-Perubahan lingkungan eksternal
-Pasar TV analog yang sudah jenuh
-Komplain adanya noise, ghost dll
-Kompetisi dengan sistem penyiaran satelit dan kabel (Cable Television)
Perkembangan teknologi :
-Teknologi pemrosesan sinyal digital (Digital Signal Processor)
-Teknologi transmisi digital
-Teknologi semikonduktor
-Teknologi peralatan display yang beresolusi tingggi
Keunggulan televisi digital :
-High Definition. 5~6 kali lebih halus dibanding televisi analog
-Finest sound. Kemampuan mereproduksi suara seperti sumber aslinya
-Multifunction. Memberi kemampuan untuk merekam dan mengedit siaran
-Multichannel (satu saluran dapat diisi lebih dari 5 program yang berbeda)
