NO.1
FACEBOOK SEBAGAI CARA MENDAPATKAN DUKUNGAN SOSIAL
Interaksi adalah suatu hal yang tidak bisa lepas dari diri seorang manusia. Mengapa dikatakan seperti ini? Karena manusia pada hakikatnya dilahirkan sebagai makhluk sosial atau zoon politicon dimana mereka harus selalu berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain. Seorang manusia tidak akan bisa melakukan segala sesuatu dan menjalani hidup ini hanya seorang diri, suatu saat pasti ia akan membutuhkan kehadiran orang lain yang bisa membantunya memenuhi kebutuhan dan menyelesaikan masalah yang ia hadapi.
Untuk membantu proses sosial ini, manusia menggunakan berbagai macam cara dan alat untuk menunjang dan mempermudah mereka. Mereka berinteraksi secara langsung maupun secara tidak langsung. Mereka berinteraksi menggunakan bantuan alat maupun tanpa alat, hanya mengandalkan indera yang ada pada tubuh mereka. Mereka menggunakan bahasa verbal, yaitu kata-kata dan mereka juga bisa mengunakan bahasa non-verbal, yaitu : bahasa tubuh, bahasa isyarat, simbol, sandi dan lain-lain.
Kemajuan teknologi merupakan salah satu hal pendukung yang membuat interaksi manusia menjadi lebih mudah. Manusia bisa tetap terhubung dengan manusia lainnya yang jaraknya jauh dengan menggunakan salah satu hasil teknologi, yaitu internet. Di dalam internet terdapat berbagai jenis situs yang dapat diakses, terutama situs jejaring sosial.
Dunia maya saat ini telah menjadi makanan pokok sehari-hari hampir sebagian besar masyarakat Indonesia. Setiap hari mereka selalu mengakses apapun lewat dunia maya, yang akrab kita sebut dengan internet. Melalui media internet ini kita bisa melakukan apa saja yang kita mau, mulai dari chatting, browsing dan lain sebagainya. Internet juga banyak menyita waktu sebagian besar orang, rata-rata mereka mengakses internet hampir setiap jam, sehingga keberadaan internet ini sangat disambut baik oleh masyarakat Indonesia. Internet sendiri muncul di Indonesia pada awal tahun 1990-an, saat itu hanya kota-kota besar saja yang bisa mengakses internet. Daerah-daerah terpencil atau daerah pedesaan baru bisa merasakan internet sekitar dua tahun mendatang.
Dahulu internet hanya digunakan sebagai paguyuban network, dimana rasa kekeluargaannya sangat kental. Namun sayangnya sesuai dengan perkembangan jaman, internet malah dijadikan ladang komersial bagi banyak orang. Selain praktis dan berdana murah, internet juga dapat menjangkau khalayak dengan jumlah yang sangat besar, bahkan dengan internet ini orang seluruh dunia dapat mengetahui apa yang kita lakukan di internet. Dari sini lah internet terus dijadikan sebagai ladang bisnis, banyak pengusaha-pengusaha memanfaatkan jasa internet untuk mengembangkan usahanya. Semua orang terbius dengan kedahsyatan internet ini. Dari anak sekolah dasar hingga elit politik pun selalu menggunakan internet untuk media mereka, Internet juga dijadikan sebagai media untuk berdiskusi ataupun belajar, kelebihan dari internet adalah keanggotaan internet tidak mengenal batas negara, ras, kelas ekonomi,ideologi atau faktor faktor lain yang biasanya dapat menghambat pertukaran pikiran. Jadi anggota internet ini adalah masyarakat dunia, bebas, dan tanpa adanya hambatan apapun. Namun internet sendiri juga memiliki kode-kode etik yang tidak boleh dilanggar.
Situs jejaring sosial sangat banyak jenisnya, ada yang khusus berfungsi sebagai penghubung satu orang dengan orang lain hingga ada situs yang menyediakan permainan online yang bisa dimainkan beberapa orang sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Banyak situs yang terlahir dan didedikasikan untuk menjadi sebuah situs jejaring sosial, antara lain : Facebook, Friendster, Plurk, Twitter, MySpace, Tagged, Multiply dan masih banyak lagi yang lainnya.
Era blogging telah berlalu, tidak sampai disini saja. Kehebatan internet kembali menunjukkan taringnya, sekitar awal tahun 2000-an muncullah Friendster. Friendster adalah sebuah situs yang mengimplementasikan social networking. Setiap orang dapat mendaftarkan dirinya secara gratis dan mendefinisikan daftar temannya. Setiap anggota Friendster kemudian dapat melihat daftar teman dari temannya, teman dari teman dari temannya, dan seterusnya. Intinya adalah dengan cara demikian, seseorang dapat bertemu dengan orang lain yang berhubungan, dan bukan orang yang sepenuhnya tak dikenal.Tahun 2002, Jonathan Abrams menciptakan Friendster. Ia adalah seorang old former software engineering di Netscape. Nama Friendster sendiri berasal dari ‘Friend’ dan ‘Napster’. Pada saat itu Napster memang sudah menolong orang-orang untuk bertukar informasi melalui jaringan maya, dan Friendster melakukan hal yang sama dalam dimensi yang berbeda.Berawal dari situs-situs dating yang banyak tersebar, Jonathan melihatnya sebagai sesuatu yang ‘creepy’ karena orang-orang yang terhubung tidak dapat ‘melihat satu-sama lain’. Friendster ia buat dengan tujuan agar masing-masing individu dapat menampilkan profile sehingga interkasi tersebut berjalan lebih terbuka. Dengan konsep four degrees separation, tiap individu akan berkaitan dengan individu lainya.
Dengan begitu jaringan ‘pertemanan’ akan semakin meluas.Berbagai fasilitas selalu ditambahkan dalam web friendster, misalnya biodata, jumlah teman dan jaringan pertemanan, photo-photo pribadi, dan testimonial (atau kesaksian dari teman-teman). Setiap anggota dapat memasukkan biodata sesuai dengan apa yang diinginkannya, menambah dan mnegurangi jumlah teman ataupun memberikan kesaksian (testimonial terhadap teman kita yang lain). Tentunya friendster juga dilengkapi fasilitas untuk mencari teman kita berdasarkan email, nama lengkap, ataupun berdasarkan sekolahnya, kesamaan hobinya dan lain-lain. Ada lagi fasilitas untuk buletin board yaitu semacam mailing list yang hanya bisa dibaca oleh teman-teman kita sendiri. Namun karena Friendster inilah orang-orang jadi kecanduan dan malas untuk beraktifitas, seperti kecanduan bila kita telah dapat memainkannya. Lambat laun Friendster mulai ditinggalkan, karena system kerjanya hampir sama seperti e-mail, meskipun kita dapat melihat profil teman kita secara lengkap dan jelas, namun sama saja tidak bisa langsung berinteraksi. Jadi kita hanya bisa menulis di dinding (wall) teman kita, lalu menunggu balasannya. Padahal tidak setiap saat teman kita tersebut membuka Friendster.
Awal tahun 2006 muncullah Facebook, sejatinya hampir mirip dengan Frienster, Facebook adalah situs social yang tentunya menggunakan teknologi yang lebih canggih dari Friendster. Facebook diluncurkan pertama kali pada tanggal 4 Februari 2006 oleh seorang mahasiswa Harvard University, Mark Zuckerberg. Nama Facebook sendiri diinspirasi oleh Zuckerberg dari sebuah istilah di kalangan kampus seantero AS untuk saling mengenal antar sesama civitas akademiknya. Awalnya para penggunanya hanya dikhususkan bagi para mahasiswa di kampus Harvard University. Lalu kemudian diperluas ke sejumlah kampus di wilayah Boston (Boston College, Boston University, Northeastern University, Tufts University) dan kampus-kampus lainnya seperti Rochester, Stanford, NYU, Northwestern, and Ivy League. Menyusul kemudian sejumlah kampus lain di AS. Akhirnya, penggunanya lebih diperluas lagi ke sejumlah kampus lain di seluruh dunia. Tanggal 11 September 2006, Facebook membuat satu langkah penting dengan mengizinkan aksesnya ke seluruh netter yang mempunyai alamat email valid, namun, dengan pembatasan usia. Pengguna Facebook kini dapat bebas bergabung ke banyak jaringan yang diatur berdasarkan kota, lokasi kerja, sekolah maupun negara. Jaringan-jaringan ini kemudian akan menghubungkan para anggotanya.
Sesama pengguna dapat berhubungan dengan teman-temannya dan bisa saling melihat isi profil pribadi. Situs Facebook mendapatkan pemasukan utama dari iklan-iklan yang terpasang padanya. Para pengguna bebas membuat profilnya masing-masing yang di dalamnya bisa berisi foto dan info-info pribadi lainnya. Selain itu dapat juga saling mengirim pesan, bergabung dengan sebuah grup atau lebih. Secara default, Facebook mengatur profil pengguna hanya bisa diakses oleh sesama pengguna yang telah berteman. Namun pengaturan ini bisa nanti dirubah jika diinginkan. Facebook memiliki sejumlah fitur interaksi antar sesama pengguna yang di antaranya adalah fitur ‘Wall/Dinding’, ruang tempat sesama pengguna mengirimkan pesan-pesan terbuka, ‘Poke/Colek’, sarana untuk saling mencolek secara virtual, ‘Photos/Foto’ ruang untuk memasang foto, dan ‘Status’ yang menampilkan kondisi/ide terkini pengguna. Mulai Juli 2007, Facebook mengizinkan pengguna untuk mengirim berbagai lampiran (tautan, aplikasi, dsb) langsung ke Wall/Dinding, di mana sebelumnya yang diizinkan hanya teks saja.
Seiring perjalanan waktu, Facebook menambahkan beberapa fitur baru ke dalam situsnya. Pada September 2006, Facebook mengumumkan peluncuran News Feed/Rangkaian Kabar Berita yang berisi kilasan informasi dari masing-masing pengguna. Mulanya fitur ini bersifat terbuka dan bisa dilihat oleh siapa saja. Namun setelah mendapat keluhan dari beberapa pengguna, pihak Facebook merubah pengaturan fitur ini sehingga kini pengguna dapat mengatur mana yang bisa ditampilkan di News Feed/Rangkaian Kabar Berita dan mana yang tidak. Pengguna facebook merupakan masyarakat luas yang ingin menambah teman pada akun mereka. Namun saat ini pengguna Facebook, tidak hanya ingin untuk mencari teman saja, namun untuk mencari keuntungan juga. Kita lihat saja, sekarang ini jika kita membuka wall di akun facebook kita, maka dapat kita lihat sebelah kanan dan kiri layar terdapat banyak sekali iklan yang menawarkan berbagai macam produk. Facebook yang semula hanya sebagai situs social yang berguna untuk memudahkan berkomunikasi, Nampak sekarang telah menyimpang sebagai situs komersial. Karena iklan-iklan yang masuk di dalamnya itu semakin banyak sekali.
Namun akhir-akhir ini yang sedang marak diperbincangkan adalah akun di Facebook yang menyangkut tentang dukungan social. Facebook juga merupakan brand community yang sangat familiar saat ini, hampir seluruh kalangan masyarakat mengenal dan bahkan menjadi anggota dari situs ini, sehingga tidak heran apabila banyak pihak yang berusaha meraup popularitas dan mencari keuntungan dari situs ini, seperti contohnya keberhasilan Barack Obama menjadi presiden Amerika Serikat karena ia berkampanye melalui akun Facebook yang ia miliki dengan cara membangun basis fund raising melalui Facebook.
Berkaca kepada pengalaman pemilihan presiden AS tersebut, media alternatif seperti situs pribadi, portal video YouTube, portal jaringan Facebook, atau pesan layanan singkat memang sangat mempengaruhi pencitraan seorang kandidat. Kelompok yang paling terpengaruh dengan media alternatif itu adalah pemilih pemula yang relatif merupakan swingvoters (pemilih muda).
Pada Pemilu 2009 lalu, para bakal calon presiden di Indonesia juga tidak mau ketinggalan. Mereka semua memanfaatkan Facebook. Bagi pengguna Facebook, ketika masa kampanye tahun 2009 lalu pasti banyak nama-nama kandidat capres tersebut mondar-mandir di kolom ‘Teman yang Disarankan.’ Facebook dilirik mantan Presiden Megawati Soekarnoputri yang kembali mencalonkan diri maupun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang akan mempertahankan kursinya. Bakal calon presiden lain pun tak mau ketinggalan kereta. Sebut saja Wiranto, Amien Rais, Sutiyoso, Sultan Hamengku Buwono X, Prabowo Subianto, Hidayat Nur Wahid, dan Fadjroel Rachman. Namun, penggunaan media Facebook sebagai media untuk mencari dukungan ini agaknya dirasa kurang bagi penduduk Indonesia, mengingat jumlah orang yang mengakses internet di Indonesia hanya sekitar 10,5% dari keseluruhan warga Indonesia, atau sekitar 25 juta orang.
Dan ketika kita sudah meng-add mereka, jangan harap para kandidat capres itu bakal bersusah payah memutakhirkan data, mengisi wall atau menjawab berbagai pesan dari kita. Pastilah para kandidat capres memiliki tim Facebook yang kerjanya khusus mengelola situs tersebut.
Anggota DPR pun banyak yang memiliki akun di Facebook. Bahkan, ada beberapa anggota legislatif yang setiap saat memutakhirkan informasi di Facebook, bahkan ketika sedang rapat seolah-olah hal itu menjadi pekerjaan utamanya.
Dengan dikeluarkannya Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKPP) atas kasus Wakil Ketua nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah—tanpa mengecilkan peran pihak lainnya, sesungguhnya menegaskan bahwa peran jejaring sosial saat ini tidak bisa dianggap remeh. Berkat dukungan pengguna jejaring sosial Facebook dalam “Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto” yang hingga mencapai lebih dari 1,3 juta orang, membuat kasus ini mendapat perhatian tersendiri. Chandra dan Bibit yang sempat ditahan oleh Polisi kemudian dibebaskan.
Selain digunakan untuk kepentingan politik, Facebook lebih sering digunakan untuk keperluan dukungan secara sosial. Seperti yang terjadi pada beberapa waktu, ketika kasus Prita sedang marak-maraknya dimuat di media massa, lalu muncullah gerakan untuk mendukung prita Mulyasari supaya terbebas dari jeratan hukum dan denda yang harus dibayarkan. Mereka memberi nama gerakan ini Gerakan Koin Keadilan Untuk Prita Mulyasari.
Suksesnya gerakan ini jelas tak bisa dipisahkan dari peran media massa. Dari Facebook dan Twitter, kampanye Koin Keadilan Prita menyebar ke media-media massa, terutama televisi. Media inilah yang bisa menjangkau lapisan masyarakat paling rendah. Secara sosiologis, ini adalah gerakan sosial yang efektif. Motor gerakan ini adalah para pengguna Facebook yang dalam kajian sosiologi dikelompokkan sebagai masyarakat kelas menengah. Sejarah membuktikan lapisan menengah inilah yang biasanya menentukan perubahan di sebuah masyarakat.
Karena sumbangan berupa uang koin, maka semua lapisan masyarakat bisa ikut berpartisipasi. Bukan hanya kelas menengah tapi juga termasuk kelas paling bawah. Ade Novita selaku pencetus gerakan ini menuturkan, banyak penyumbang yang berasal dari lapisan masyarakat paling bawah. Dan ternyata hasilnya luar biasa, bahkan di luar dugaan para penggagas ide ini. Dalam waktu hanya sekitar setengah bulan, jumlah koin yang terkumpul sekitar Rp 700 juta (di luar sumbangan selain koin). Jumlah ini jauh lebih banyak dari target semula Rp 204 juta. Inilah pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, uang sumbangan terkumpul bukan lagi dalam satuan juta rupiah, tapi juga dalam satuan ton! Jika diasumsikan semua koin dalam satuan Rp 500,- berat koin sejumlah itu diperkirakan sekitar 8 ton.
Lalu akan timbul pertanyaan di benak kita mengapa Facebook sering digunakan sebagai medium untuk membuat gerakan dukungan terhadap suatu fenomena? Menurut pandangan saya, luasnya jangkauan Facebook dan banyaknya anggota situs jejaring ini membuat suatu gerakan yang dibuat di Facebook akan dengan mudah diketahui dan diikuti oleh orang yang mengetahui tentang gerakan tersebut. Apalagi, peringkat akses dari situs Facebook sangat tinggi, sehingga akan memperbesar kemungkinan suatu gerakan atau isu yang disebarkan di Facebook akan tersebar lebih cepat. Orang dari berbagai penjuru dunia akan dapat mengetahui mengenai adanya suatu gerakan di Facebook dan mereka dapat menjadi anggotanya tanpa harus berada di wilayah dimana isu dari gerakan tersebut sedang berlangsung. Sebagai contoh, kasus Prita terjadi di jakarta, Indonesia. Namun para warga Indonesia yang mengatahui tentang isu ini dapat menjadi anggota dan memberikan dukungan, walaupun mereka tidak sedang berada di Indonesia.
Selain itu, kemudahan dan akses dalam mengikuti gerakan tersebut sangat mudah. Maksudnya adalah, hanya bermodalkan akun Facebook yang dimiliki oleh seseorang, maka orang tersebut berhak untuk mengikuti berbagai gerakan yang ada di situs Facebook. Dan karena untuk mengikuti gerakan ini biasanya gratis, maka dapat dipastikan banyak orang yang mau mengikuti suatu gerakan secara sukarela, walaupun terkadang mereka tidak mengetahui isu (berita atau tujuan) mengenai gerakan tersebut.
Fenomena tersebut perlu dicermati, sebab bukan tidak mungkin ini merupakan bentuk baru demokrasi yang ada di tengah masyarakat. Demokrasi yang berbasis jejaring sosial web 2.0 berpotensi menjadi ruang publik baru dan menajdi pilar demokrasi kelima setelah eksekutif, yudikatif, legislatif (trias politica) serta media. Meskipun, ada kelebihan dan kekurangan yang ditawarkan struktur sosial yang dibentuk dari simpul-simpul individu atau organisasi yang diikat dengan satu atau lebih relasi seperti teman, keluarga, nilai, visi maupun ide.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar